JAKARTA, GLOBALMARTAMEDIA.COM
- @ Membuka Jendela Dunia.
Jakarta/ Sebuah lembaga induk Pers Indonesia yang bernama Dewan Pers terlihat sangat gencar meminta pemerintah untuk berikan anggaran kepada industri perusahan pers. Hal itu dipandang lucu oleh Ketua Forum Wartawan Jakarta (FWJ) Mustofa Hadi Karya atau yang sering disapa Opan ini. (14/04/2020)
Opan menilai Dewan Pers terlihat tidak menaungi perusahaan-perusahaan pers skala kecil dan menengah, pasalnya Ketua Dewan Pers M. Nuh hanya melirik industri perusahaan pers Nasional yang berskala besar.
Pandemi corona (Covid-19) menurutnya bukan hanya menekan industri media massa nasional yang disebut-sebut Dewan Pers, akan tetapi berdampak pada semua lini perusahaan media tanpa terkecuali. “Saya mengkritisi ucapan Muhammad Nuh selaku ketua Dewan Pers soal dirinya meminta pemerintah memberikan dukungan insentif demi keberlangsungan usaha industri media, tapi saya mendorong dan mendukung Dewan Pers untuk tetap pada induk lembaga pers Indonesia yang juga memperhatikan keberlangsungan perusahaan-perusahaan media skala kecil dan menengah. “Desak Opan.
Dalam postingannya, Rinaldo menyinggung sejumlah industri media yang dimaksud Dewan pers, yakni ‘Gak sangka mentalnya Dewan Pers dalam kepeduliannya mengatasi Pandemi Virus Covid-19. Padahal industri pers ada yang namanya Hary Tanu (MNC Group), Jacub Utama (Gramedia Group), Eric Tohir (Republika), James Riyadi (Lippo Group), Suryo Paloh (Metro TV/Media Indonesia), Dahlan Iskan (Jawa Pos Group), Wisnu Tama (Net TV), Chairul Tanjung (Trans Group).
Pemberitaan pers yang mencerahkan dan menyejukkan masyarakat bahkan semakin relevan pada situasi krisis seperti sekarang ini. Berdasarkan informasi yang beredar, pemerintah telah mempersiapkan kebijakan pengurangan pajak untuk 15 sektor manufaktur.
“Kami berharap rencana kebijakan ini dapat diperbaiki dengan memasukkan sektor industri media massa sebagai bagian dari prioritas penerima insentif ekonomi pemerintah. “Ungkap Nuh, dalam pernyataan resminya.
Dewan Pers berpandangan skema pengurangan atau penghapusan pajak serta insentif lain semestinya juga berlaku pada industri media seperti diberlakukan pada sektor penting lainnya.
Berikut ini usulan insentif bagi perusahaan pers yang merupakan hasil pembicaraan Dewan Pers dengan konstituen pers nasional:
1). Penghapusan kewajiban pembayaran pajak penghasilan (PPh) 21, 22, 23, 25 selama tahun 2020;
3). Penangguhan pembayaran denda-denda bayar pajak terutang sebelum 2020;
4). Pembayaran BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan tahun 2020 ditanggung oleh negara;
5). Pemberlakuan subsidi 20% dari tagihan listrik bagi perusahaan pers selama masa pandemi berlangsung;
6). Pengalokasian anggaran diseminasi program dan kinerja pemerintah untuk perusahaan pers yang terdaftar di Dewan Pers. Dengan demikian, serta dengan tetap menjaga independensi dan profesionalisme pers, pemerintah mellaui cara ini dapat berperan mendukung keberlangsungan hidup perusahaan pers yang kredibel pada situasi krisis;
7). Pemberlakuan subsidi sebesar 10% (sepuluh persen) per kilogram pembelian bahan baku kertas untuk media cetak. Subsidi ini sangat penting karena harga kertas yang mengikuti pergerakan kurs rupiah terhadap dolar pada situasi krisis semakin memberatkan hidup media massa cetak;
8). Penghapusan biaya Izin Stasiun Radio (ISR) dan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) untuk media penyiaran radio dan media penyiaran televisi tahun 2020;
Dewan Pers bersama seluruh unsur pers nasional berharap pemerintah mempertimbangkan usulan-usulan di atas. “Kami yakin pemerintah memiliki kesungguhan untuk senantiasa mempertahankan kehidupan pers yang bebas, sehat, bertanggung-jawab dan selalu berkontribusi dalam penyelesaian masalah-masalah bangsa,” Tutup Nuh.
Sumber,” Pajar Saragih/elg (Gmm)

