Keluarga Qidam Bantah Semua Keterangan Polisi.

  • @ Membuka Jendela Dunia.

Sulteng/ Pihak keluarga,” Qidam Alfariski Mofance (20) tahun, membantah seluruh keterangan polisi, yang menyebut almarhum merupakan anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Keluarga almarhum pun sangat menentang dan akan menuntut Polda Sulteng yang telah menyebabkan ditolaknya Qidam Alfariski. (13/04/2020)

Melalui Paman Qidam, Asman Nusra menjelaskan secara langsung kepada Radar Sulteng tentang kronologis hingga keponakannya tersebut meregang nyawa. Asman mengungkapkan, sehari-hari almarhum bekerja di SPBU Tambarana. Peristiwa ini sendiri bermula pada Kamis 9 April, 2020. Ketika itu almarhum masih membantu Asman di somel miliknya, dari pagi hingga sore. Usai membantu Asman, Qidam pulang ke rumah Neneknya. Setiba di rumah Neneknya tersebut, Qidam ditolak kembali, karena mewabahnya virus corona.

“Dia dari kecil sudah tinggal sama neneknya, karena mamanya ada di Manado. Namun saat ditegur, korban tetap keluar dan rumah utama yang tidak jauh dari rumah neneknya, membawa tas kecil, ”jelas Asman, Sabtu (11/04).

Setelah mendapatkan kabar korban keluar dari rumah, Asman mencari korban, sekitar pukul 19.30 wita, membahas tentang korban di rumah keluargannya yang lain, di Desa Tobe, Ia akhirnya memutuskan untuk menjemput korban sekitar pukul 22.00. “Belum ada dia (korban) di situ, karena takut saya mau antar,” Terangnya.

Korban masih sempat makan di rumah tersebut. Kata Asman, larinya korban, di situlah bertemu dengan masyarakat dan diminta ditanyakan dari korban, korban diharuskan menjawab dari Tambarana, saat meminta air minum ke warga yang memegangnya, korban dihabiskan untuk tidak lari ke arah dekat Polsek.

“Warga menelpon Polmas lokal, akan tetapi yang datang dari kepolisian di Polsek Poso Pesisir, dan tidak ada dari Polmas, di situ korban langsung dikejar dan ditembak. Tidak ada itu kontak tembak, ”Sesal Asman.

Dirilis, karena ia melepaskan tembakan pertama, penyebab rumah yang masih kena kabut itu hanya berjarak 1 Kilometer dari TKP, ada satu jam lebih banyak dari suara ledakan senjata, dan berulang kali, jadi mungkin-olah itu adalah kontak tembak.

“Bukan kontak, masih saya dengar karena saya masih di rumah keluarga ini, karena hanya berjarak 1 kilometer, kajadiannya di pukul 23.00, lama suara tembakan itu satu jam setengah,” terang Asman.

Dan dia memastikan korban dianiya, karena habis ditembak, dan ada luka robek akibat sangkur, kemudian korban diseret sepanjang 100 meter. “Ada bekas diseret sekitar 100 meter lebih, dan ada korban yang menyaksikan di situ kejadian, warga sudah banyak kejadian di sekitar,” katanya.

Seharusnya kepolisian bisa lebih dulu menebus korban, tidak langsung mengambil tindakan. Baru kepolisian mendaftarkan kontak, padahal tidak ada kontak. “Kalau memang berontak, kenapa tidak pindah saat SPBU ditangkap, dan sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari kepolisian ke keluarga, bahkan jenzah korban sudah dibawa ke Palu dan disembunyikan, baru dikirim ke keluarga,” ucap Asman.

Dia meminta agar kasus ini dapat dilakukan dengan hukum, karena jelas kasus ini adalah penganiyaan murni yang dilakukan oknum aparat. “Tetap pesta keluarga meminta ini dilakukan siapa yang melakukan penganiyaan,” jelas Asman.

Sementara itu, perwakilan pihak keluarga, Irsad Amir, juga menyimak perwakilan dari Kabid Humas Polda Sulteng, yang menyetujui terlalu cepat tentang almarhum adalah anggota kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. “Adik kami ini tidak ada yang membantunya sama sekali dengan kelompok kebebasan atau Ali Kalora,” tegasnya.

Dia pun mengumumkan, keluarga sangat setuju bila almarhum disangkut pautkan dengan teroris atau kelompok sipil revolusi. Irsad juga meminta agar kasus kematian Qidam ini diminta oleh hukum yang berlaku tanpa melihat bulu. “Kami juga akan langsung ke Polda untuk meminta kematian juga perntaan dari Kabid Humas Polda ini,” Ungkap Irsad.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto, mengatakan, “Polisi menerima informasi dari warga? Ada salah satu yang tidak diketahui terkait dengan kelompok”. “Saat dilakukan pengejaran, dan terjadi kontak tembak dan akhirnya terjadi sasaran tembak. Jelasnya ada pertahanan, kan ada kontak tembak, ”Imbuhnya, Jumat (10/04).

Informasi Satgas Tinombala, dan warga tertembak itu telah bergabung dengan kelompok-kelompok sipil yang berkompetisi, saat turun gunung dan mendatangi rumah warga. Juru bicara Polda Sulteng ini, juga membicarakan keluarga yang sudah menerima atau mengetahui kejadiannya, karena jenazah sudah ada di pihak keluarga,” Tutupnya.

Sumber, “Ulk/fcb/elg (Gmm)

 

baca juga :  Babinsa Babulu Darat Sisihkan Rezekinya Untuk Berbagi Ke Warga Kurang Mampu.