Perang Banjar,” Munculnya Pasukan Perang Beratib Ba-Amal.

 

MARTAPURA, GLOBALMARTAMEDIA.COM

  • @ Membuka Jendela Dunia.

Kalsel/ Penyerangan terhadap benteng-benteng, tambang-tambang batu bara, kapal perang dan lain-lain milik Belanda membuat si penjajah tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga pada 25 Juni 1859 Belanda memaksa Pangeran Tamjid turun tahta dan membuangnya ke Bogor. Sedang Pangeran Hidayatullah lari dari Keraton Martapura bergabung dengan Pangeran Antasari. (14/01/2020)

Peperangan terjadi tidak hanya di daerah Kalimantan Selatan tetapi meluas sampai ke Kalimantan Tengah. Wilayah pertempuran Kalimantan Tengah yaitu Barito, Kapuas dan­ Katingan dipimpin oleh Pangeran Antasari didampingi oleh Tumenggung Surapati yang asli Suku Dayak. Daerah Martapura dan Tang Laut dipimpin oleh Demang Lehman, Daerah Banua Lima dipimpin oleh Jalil bergelar Kiyai Adipati Anom Dinding Raja

Setelah Belanda meminta bantuan ke Batavia, maka, berdatanganlah kapal-kapal perang lengkap dengan serta serdadu-serdadu dan meriam-meriamnya. Kapal Perang Onrust berlayar ke Barito untuk menangkap Pangeran Antasari metalui Tumenggung Surapati. Namun Tumenggung Surapati tidak mau berkhianat meskipun Belanda menjanjikan hadiah beberapa ribu Gulden jika Tumenggung Surapati bisa menyerahkan Pangeran Antasari.

Makam Habib Shahibul Bahasyim

Pada 26 Desember 1859, tiba-tiba Tumenggung Surapati bersama anak buahnya menyerang kapal Onrust Dalam peristiwa ini Komandan kapal perang Onrust tewas beserta 93 anak buahnya. Senjata-senjata dan meriam meriamnya diangkut ke darat sedangkan kapalnya ditenggelamkan. Sementara itu, kapal perang Tjipanas yang mengarungi Sungai Martapura mendapat serangan dari Demang Lehman beserta anak buahnya sehingga buru­-buru kembali ke Banjarmasin.

Pada 11 Juni 1860, Belanda memproklamirkan dihapuskannya Kerajaan Banjar dan menjadikan wilayah itu sebagai jajahan Belanda.
Dengan demikian perang melawan Belanda bukan lagi karena Belanda ikut campur tangan di dalam wilayah Keraton Banjar, tetapi perang melawan penjajahan Belanda yang ingin menghancurkan umat Islam. Oleh karena itu, pada 1861 muncullah pasukan berani mati demi membela agama Islam. Pasukan ini dinamakan Pasukan Perang Baratib Ba-amal. Landasan perjuangan mereka adalah Kalimah Allah, Hadist Nabi Muhammad SAW, minta syafa’at 40 nabi, keramat para Datu dan ilmu Pahlawan.

baca juga :  Taklimat Akhir Pengawasan Internal Post Audit Itdam III/Siliwangi di Korem 064/MY.

Sebelum maju ke medan perang,terlebih dahulu, mereka mensucikan badan dari hadast dengan mandi dan wudhu, kemudian memakai pakaian putih-putih seperti pakaian perang zaman Rasullullah. Mereka juga berpuasa kemudian Beratib ba-amal (mengamalkan/mewiridkan salah satu amalan: Pen) hingga sampai lupa diri. Kemudian maju ke medan laga untuk menghadapi musuh. Mereka yakin, jika mereka gugur dalam pertempuran melawan orang-orang kafir Belanda dan sekutu­-sekutunya, mereka mati Syahid.

Photo Pangeran Abdurrahman (Shulton Banjar)

Pimpinan dari gerakan Perang Beratib Ba-mal ini adalah guru-guru agama dan penghulu. Di antara para pemimpin Pasukan Perang Baratib Ba-amal ini adalah Haji Badar dari Banua Lawas, Penghulu Rasyid, Penghulu Buyasin dan Abdul Gani dari kampung Selasih Amuntai.

Sementera itu Pula, Pangeran Hidayatullah yang telah dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Banjar di Amuntai berulang kali mendapat tawaran berdamai dari Belanda, namun tawaran itu selalu ditolaknya. Dengan tipu muslihatnya. Belanda memperdayai Pangeran Hidayatullah agar datang ke-Martapura atas perintah ibu Suri Ratu Siti. Ibu Suri Ratu Siti yang tidak bisa membaca huruf latin percaya begitu saja kepada Belanda sehingga mau menandatangani surat yang ditulis Belanda serta dibubuhi stempel Kerajaan Banjar.

Sebagai orang yang sholeh, tentu Pangeran Hidatullah takut kepada ibunya. Pangeran Hidayatullah bersama pengawalnya kyai soering rana atau Habib shahibul bin alwi bahasyim datang ke Martapura pada 3 Maret 1862. Padas aat itu pula, beliau ditangkap dan dibuang ke Cianjur.
Riwayat singkat sejarah habib shahibul bin alwi Tgl 3 maret 1862 (gelar kiai suring rana) Datu Alhabib Sahibul Bin Alwi Bin Salim Bin Husin Bin Umar Bin Syarif Husin Bin Awadh Bahasyim seorang pahlawan banjar tercatat ikut di buang belanda ke cianjuar jawa barat. Meninggalkan tanah kelahiran dan anak cucu buyut beliau di barabai 3 orang anak Habib Hasan dan Habib Husein dan Syarifah sejarah yang terhubung di kesultanan banjar.

baca juga :  PT. TBC Syukuran, Sukses Meraih Keberhasilan.

Habib Shahibul Bahasyim panglima perang banjar yg ikut terbuang ke cianjur di padahakan walanda pemberontak belanda. sidin adalah pejuang pengawal (Pangeran Hidayatulah) Bin Pangeran Abdurrahman Bin Sultan Adam Bin Sultan Sulaiman karang intan martapura. Bersama yg di buang adalah Habib Abubakar Bin Zein Bin Umar Bin Syarif Husin Bin Awadh Bahasyim bersama sama tangal 3 maret 1862 beserta rombongan Sahibul Bin Alwi Bin Salim Bin Husin Bin Umar Bin Husin Bin Awadh Bahasyim dan Pangeran Hidayatullah di asingkan ke cianjur jawa barat. Catatan
Sejarah Penipuan terhadap Sultan Banjar, Pangeran Hidayatullah. (Perang Banjar ,karya Gt. Mayur)

Riwayat sejarah Alhabib Shahibul

Pada tanggal 3 Maret 1862 menjadi lagi saksi sejarah keganasan penjajah memisahkan pemimpin-2 kerajaan dan keluarga para habib dengan rakyatnya yang di banjar, dengan Negaranya yang dibangunnya, yang dicintainya, yang diperjuangkannya.
Bagi pihak penjajah Belanda, mereka yang berjuang, yang diasingkannya itu adalah orang orang yang dianggapnya pemberontak pemberontak besar, yang berbahaya baginya. Sebaliknya bagi kita Rakyat orang banua, mereka itu adalah pahlawan pahlawan Bangsa yang telah berjuang dengan jiwa raga untuk Negara, Rakyat dan Agama. Habib Umar Bin Zein Bin Umar Bin Husin Bahasyim.

Abu Bakar Bin Umar Bin Zein Bin Umar Bin Husin Bahasyim dengan Habib Shahibul Bin Alwi Bin Salim Bin Husin Bin Umar Bin Syarief Husin Bahasyim mereka di buang ke cianjur. Sahibul Bin Alwi Bin Salim Bin Husin Bin Umar Bin Husin Bin Awadh Bahasyim gelarnya Kiai Suring Rana. (pengawal sulthan) Pangeran Hidayatullah Bin Sulthan Abdurahman Bin Sultan Sulaiman Banjar. Di salin oleh juriat Alhabib Shahibul Bin Alwi Bahasyim.

Sumber,” Hbb ysf bhsm/onedy/elg (Gmm)