Jokowi Abaikan Pengungsi Nduga.

NDUGA, GLOBALMARTAMEDIA.COM

  • @ Membuka Jendela Dunia.

Papua/ Angkatan Bersenjata Indonesia (TNI-POLRI) Dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, yang sudah terjadi di Nduga sejak Desember 2018 hingga sampai sekarang, Membuat ribuan warga mengungsi di kabupaten tetangga masih terlantar seperti Wamena, Lanny Jaya dan daerah lainnya. Dimanakah Sila Kedua, Ketiga dan Kelima yang tertulis di Pancasila? Inikah cara negara kita? Nilai-nilai Pancasila dikemanakan. (13/10/2019)

Salah satu mahasiswa pada sebuah perguruan tinggai di Jayapura,” Aleb Koyau mengatakan, Pengungsi masyarakat Nduga dan Wamena sama-sama mencari perlindungan dan kenyamanan dari ibu kandung Ibu Pertiwi, Aleb mempertanyakan makna lima sila pada Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia, Kemana dan untuk siapa makna Sila tersebut,” Ucapnya.

Jangan pernah melihat dari kaca mata politik, tetapi harus melihat dari nilai kemanusiaannya. Apakah kalian pejabat negara ada yang mengendalikan ? Sehingga warna kami di abaikan, Tidak berharga. Karena nilai manusia lebih berharga dan mahal, sehingga (dalam) menangani pengungsi masyarakat Nduga dan masyarakat Jayawijaya (Wamena) harus netral,” Ungkapnya.

Aleb membandingkan respons pemerintah pusat dan pemprov untuk penanganan pengungsi karena longsor di Sentani dan Wamena, terasa lebih cepat membuka mata dan telingadibanding pengungsi masyarakat Kabupaten Nduga. Padahal pengungsi masyarakat Nduga sudah terbengkalai. Hidupnya tidak nyaman, selama sembilan bulan membutuhkan pertolongan dari pemerintah,” Tegasnya.

Dari jumlah 184 yang meninggal 41 anak usia masih sekolah.

Menurut Wanimbo menuturkan, Coba kita bayangkan, 41 anak yang meninggal dunia di pengungsian, ini adalah usia sekolah. Ini bukti Presiden Jokowi dan jajarannya abaikan nasib mereka, Tak ada perhatian dan niat untuk merubah masa depan anak bangsa. Mereka juga berhak atas hasil alam yang dikeruk pemerintah pusat.,” Imbuhnya.

Wanimbo menyatakan, pemerintah pusat di Jakarta dan Pemprov Papua harus netral dan merata dalam penanganan pengungsi, baik memberikan bantuan bahan makanan ataupun ketersediaan rumah layak huni, seperti dilakukan terhadap pengungsi Wamena pascainsiden 23 September, mereka jangan di anak tirikan. Dari pengungsian ini, tercatat 184 orang asli Nduga meninggal dunia. Sebanyak 41 orang di antaranya adalah anak-anak berusia sekolah,” Sesalnya.

Ketua Pemuda Gereja Baptis Papua,” Sepi Wanimbo mengatakan, lebih tragisnya lagi, pemerintah tampak menomorduakan para pengungsi Nduga. Hasil daerah kami dirampas habis habisan untuk gembungkan perut kalian, Jadi kami mohon kepada pemerintah pusat untuk perhatikan warga kami sebelum kami berubah pikiran untuk tidak mengakui NKRI Harga Mati,” Tutupnya.

Sumber,” Bambang Karyanto (Gmm)