Prof Sutan Nasomal Minta Kepada Ketua PWI Kota Bogor Agar Bijaksana Dalam Mengambil Sikap.

BOGOR, GLOBALMARTAMEDIA.COM

Membuka Jendela Dunia

Jabar/ Kisruh yang terjadi kepada para Insan Pers Kabupaten Bogor dengan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bogor,” Dedi Firdaus menjadi polemik yang berbuntut panjang, diduga Dedi Firdaus telah membuat perkataan yang kurang menyenangkan kepada rekan rekannya awak media saat berkumpul untuk agenda unjuk rasa, Saat Wartawan Indonesia Bersatoe sedang berkumpul di dalam kantor Graha Wartawan Kota Bogor,” Dedi Firdaus berkata bahwa keberatan dengan keberadaan para wartawan yang berkumpul untuk agenda unjuk rasa ke Dinas Sosial.

“Saya tidak setuju dan keberatan kalian kumpul di tempat ini (red PWI) ini kantor kami, seharusnya kalian minta izin dulu, kan ada nomor telpon kami, Silahkan kalian kumpul diluar kantor saja, Kenapa kalian tidak memberitahu kami sebelumnya akan kumpul disini,” ucap Dedi kepada para awak media.

Menurut Ketua IWO Indonesia Kabupaten Bogor,” Jamal mengatakan, Agenda aksi ujuk rasa Wartawan Indonesia Bersatoe yang terdiri dari 25 organisasi wartawan se Kabupaten Bogor di Graha Wartawan karena dengan pertimbangan bahwa Graha Wartawan adalah milik Insan Pers Kabupaten Bogor. Jadi mereka merasa punya hak untuk berkumpul di tempat itu, Dan para awak media se Kabupaten Bogor berencana akan menanyakan ke Bupati (Sekda) dan Diskominfo terkait hak penggunaan Graha Wartawan tersebut, agar jelas dan terang benderang kepemilikan Graha Wartawan Kabupaten Bogor tersebut.

“Kantor ini bukan hanya milik tiga organisasi saja, ini kan dibangun dari APBD, kenapa harus dimiliki hanya segelintir organisasi saja, Bila Graha Wartawan ini milik PWI Kabupaten Bogor harus dibuktikan keranah hukum, Perlu kedewasaan lah seorang Pimpinan PWI Kabupaten Bogor untuk berkata sesuatu yang diluar kapasitasnya,” ungkap Jamal selaku Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Bogor.

baca juga :  Warga Jonggat Diringkus Polisi Saat Main Judi.

Namun, menurut Dedi dibeberapa rilis yang di publikasikannya mengatakan bahwa Graha Wartawan adalah fasilitas yang diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan jurnalistik yang bersifat profesional dan netral, bukan sebagai tempat untuk melakukan aksi unjuk rasa, demonstrasi atau pertemuan yang berpotensi mengundang kontroversi.

“Saya sangat menyayangkan adanya pihak yang menggunakan nama wartawan untuk melakukan aksi tanpa kordinasi dengan organisasi resmi, hal ini dapat mencoreng citra profesi wartawan yang sebenarnya memiliki kode etik dan tanggung jawab besar ke masyarakat,” ucapnya di beberapa media.

Ditempat terpisah, Pemerhati Insan Pers,” Prof DR KH Sutan Nasomal saat ditemui awak media menyampaikan dan meminta kepada semua media bahwa jangan pernah kita melarang kegiatan Insan Pers apalagi sampai menghambat acara mereka, apalagi sesama awak media/jurnalis. Tentunya kita harus Bijaksana dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan, agar tidak akan terjadi benturan yang akan berimbas memutus tali silaturahmi sesama wartawan atau media.

“Katanya bahwa Gedung Graha Wartawan dimiliki PWI Kabupaten Bogor dan segelintir organisasi saja, menurut saya itu kurang benar dan perlu dibuktikan keranah hukum, dan saya minta agar jangan sampai ribut gara gara hal sepele, Kalian para Pimpinan maupun para wartawan harus menahan diri dan ambil langkah terbaik untuk penyelesaiannya. Jangan sampai lah para Insan Pers Kabupaten Bogor dapat di rusak atau di adu domba, apalagi bagi mereka yang punya kepentingan, jangan sampai orang lain bertepuk tangan dan tertawa karena terpecah belahnya wartawan Kabupaten Bogor,” pinta Prof Sutan Nasomal kepada awak media globalmartamedia.com di kediamannya.

Kita sebagai Control Sosial di masyarakat harus Arif dan Bijak dalam menentukan sikap terhadap apa yang terjadi didalam tubuh Insan Pers, Jurnalistik bukanlah suatu pekerjaan mutlak, melainkan panggilan jiwa untuk mengungkap kebenaran saat tertindih keangkuhan yang sering terjadi disekitar kita, Untuk tugas seorang jurnalis membuat orang penting/kuasa tidak semaunya dan arogan dalam menentukan kebijakan, Tetapi para pemburu berita sekiranya dapat membuat nyaman dan tenang kepada orang yang terpinggirkan serta terlalaikan.

baca juga :  Gadis Yatim Dapat Hadiah Tas Dan HP Untuk Belajar Daring.

Seorang wartawan yang Arif, berpendidikan, beradab dan gentle seharusnya tidak mendengar dan tidak perlu apa yang tidak semestinya terucapkan. Karena seorang jurnalis harus selalu ingat bahwa di balik setiap berita, liputannya ada kisah tentang kehidupan manusia yang senantiasa selalu berada didalam salah dan khilaf,” tutup Prof Sutan Nasomal.

Sumber,” Nas/Arl/Elg (GMM)