Renungan Sumpah Pemuda Di Mata Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia.

JAKARTA, GLOBALMARTAMEDIA.COM

@ Membuka Jendela Dunia.

Jakarta/ Sejumlah tokoh nasional lintas generasi, aktivis kepemudaan dan mahasiswa, hadir dan berdiskusi pada acara yang dimulai sekitar pukul 12:45 WIB. (28/10/2021)

Inisiasi Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia (PMKI) bertempat di Tentative Cafe, Jl Darmawangsa Raya, Jakarta Selatan, dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda berlangsung interaktive, Kamis.

Andrianto SIP, selaku ketua panitia, membuka jalannya acara. Menurutnya, perayaan Hari Sumpah Pemuda yang dikemas dalam bentuk diskusi itu sebagai sebuah refleksi dan kontemplasi terkait problematika bangsa akhir-akhir ini.

“Banyak masalah yang kita hadapi di negara sendiri. Makanya perlu direnungkan, refleksi dan kontemplasi bersama tokoh-tokoh nasional ini,” ujar Andrianto.

Andrianto kemudian mempersilakan satu persatu para tokoh untuk menyampaikan materi dalam forum ini. Tampil pertama sebagai pembicara adalah,” Ferry Juliantono, politisi Gerindra sekaligus inisiator Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia.

Dalam kesempatan itu,” Ferry menyoroti beberapa hal terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Misalnya, soal kereta cepat Jakarta-Bandung, yang diputuskan pemerintah menggunakan dana APBN.

“APBN dipakai untuk biayai kereta cepat Jakarta-Bandung,” tandas Ferry.

Menurut Ferry, masalah pemerintah Indonesia hari ini adalah penuh subjektifitas. Bahkan, pemerintah relatif passif saat kedaulatan rakyat terancam dengan kehadiran investasi negara asing.

Dalam anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang diputuskan pemerintah menggunakan dana APBN.

“Contohnya ada coast guard milik Tiongkok mondar mandir kita diam, ada kapal research yang kita tidak tahu research untuk apa kita juga diam,” tukasnya.

Selain itu, Ferry menambahkan bahwa dukungan pemerintah terhadap gerakan koperasi kurang signifikan, bahkan rata rata perekonomian Indonesia lebih dominan dikuasai oleh kapitalisme bukan ekonomi Pancasila.

“Sumpah Pemuda ini kesempatan kita untuk bersatu atas keaneragaman, harapannya hari ini kita tegakkan semua untuk semua, bukan semua tidak untuk semua. Pemerintah kita sekarang lebih cenderung berkiblat ke Tiongkok sehingga apabila ada sesuatu yang terjadi di Tiongkok pasti akan berimbas kepada Negara kita,” katanya.

Kemudian disambung dengan,” Rocky Gerung yang berharap Ini adalah pertemuan untuk menghasilkan ulang Indonesia. Disela-sela pembicaraanya Rocky juga sempat menyinggung Hasto Kristyanto selaku SekJen PDIP yang akan berencana memberikan biaya kuliah gratis untuk penelitian tentang perbandingan antara pemerintahan SBY dan Pemerintahan Jokowi.

Dipenutup pembicaraan dia menyatakan bahwa negara dan bangsa ini tidak boleh dipimpin oleh orang yang pengetahuannya dibawah gorong-gorong.

baca juga :  Kadin Indonesia Komite Tiongkok Siap Fasilitasi UMKM Pasarkan Produk Ke Tiongkok.

Ada satu permintaaa dari,” Habib Muksin yang menginginkan agar dalam waktu dekat, untuk mewujudkan hal ini harus ada kongres agar gerakan ini lebih kongkrit.

Hadir pada kesempatan itu,” Syahganda Nainggolan, Moh. Jumhur Hidayat, Akbar Faisal, Faisal Basri, Said Didu, Adhie Massardi, Rocky Gerung, Bambang “Beathor” Suryadi, Iwan Sumule, Antoni Budiawan.

Kemudian, ada pakar hukum tata negara,” Refly Harun, Tamsil Linrung, dan puluhan aktivis kepemudaan dan mahasiswa lainnya.

Diakhir diskusi Adi Masardi membacakan sebuah puisi keprihatinanya terhadap kondisi bangsa dan negara ini.

Sumber,” Dny/Mell/Atm (Gmm)