HYDERABAD, GLOBALMARTAMEDIA.COM
@ Membuka Jendela Dunia.
India/ Berdiri Di Kerajaan Azmatkhan Hyderabad India sejak Tahun 1919 M didirikan oleh: Sultan Sayyid Mir Mahbub Ali Khan Azmatkhan Al-Husaini,” Pengurus Sekarang, Imam Naqib : Al-Habib Prof. Dr. KH.R. Shohibul Faroji Azmatkhan, S.Ag, MA. Mendata dan Menetapkan 3110 Fam,”
1. Nasab 1555 Fam Al-Hasani Seluruh Dunia.
2. Nasab 1555 Fam Al-Husaini Seluruh Dunia. Mendata di 195 Negara Seluruh Dunia. Ini Asraf kami…. بيت الأنساب للأشراف آل عظمت خان و أهل البيت العالمي. ASYRAF AZMATKHAN & AHLULBAIT INTERNATIONAL.
DOKUMEN-DOKUMEN LANGKA TENTANG WALISONGO (Bukti Kuatnya Tradisi Intelektual Walisongo Dan Keturunannya)
Berikut adalah dokumen2 yg dipastikan kebenarannya sehubungan dgn Nasab dan Sejarah Walisongo;
1. Al-Mausuuah Li Ansaabi Al-Imam Al-Husaini, Kitab ini adalah Kitab Nasab yg disusun oleh Al-Allamah As-Syekh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh yg lahir tahun 1899 Masehi dan Wafat tahun 1992 Masehi. Sayyid Bahruddin Azmatkhan adalah Ulama Kelahiran Banyuwangi Jawa Timur, 4 orang leluhurnya yang diatas ulama ahli nasab dan Imam2 Di Masjidil Haram. Kitab Nasab yg beliau miliki ini adalah kitab Nasab yg berisi Nasab2 Al-Husaini Seluruh Dunia, Sayyid Bahruddin Azmatkhan sendiri adalah Peneliti Nasab yg memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW, Beliau memulai penelitian Nasab sejak tahun 1919 s/d 1992 Masehi, sebelumnya penelitian dan pendataan Nasab telah dilakukan oleh ayah, kakek, buyut terus sampai kepada Sunan Kudus yg merupakan leluhur beliau. Artinya status sebagai ahli nasab dari beliau memang turun temurun.

Semua nasab keluarga besar Walisongo tercatat dgn rapi dikitab yg memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW ini. Standarisasi ketika menentukan sebuah nasab itu shohih atau tidak dikitab ini sangatlah super ketat!.
Ratusan Metode yg ilmiah menjadi standar kitab ini, sehingga nasab yg masuk kedalam kitab ini betul2 sudah teruji kesahihannya. Sayyid Bahruddin Azmatkhan memang ulama ahli nasab yg luar biasa, hafalan nasabnya juga sangat menakjubkan (beliau hafal puluhan ribu nasab), beliau ini hafizh quran dan juga penghapal hadist, beliau juga orang yg tawadhu, tidak terlihat jika beliau seorang ahli nasab yg tangguh, pakaian dan gaya beliau bahkan cenderung seperti orang desa pada umumnya.
Kitab ini memang sangat mencengangkan, Dari mulai nasab Walisongo, Kesultanan kesultanan, tokoh2 bangsa, dan yg lain2, semua ada didalam kitab yg langka ini. Saat ini keberadaan kitab ini sudah dibuat dalam bahasa Indonesia dan dalam bentuk digital.
Salah satu Kelebihan kitab ini, disetiap nama yg ditulis selalu diberikan fotnote atau keterangan panjang lebar tentang sejarah, biografi serta keterangan keterangan yg mendetail dari nama tsb. Jadi bisa dibayangkan bagaimana tebal kitab ini. Oleh karenanya bagi orang yg coba coba membuat nasab palsu yg dinisbahkan kepada keluarga besar walisongo, akan bisa terdeteksi kepalsuanya, karena catatan nasab walisongo ini lengkap dan terperinci. Kitab ini tidak diperjual belikan apalagi difotocopi. Dan memang kitab nasab itu tidak boleh diperjual belikan apalagi sampai difotocopi.
Kenapa demikian ? karena kitab nasab ini bersanad, sehingga orang yang bersanadlah yang boleh menyimpan mendata dan menerangkan kepada orang lain. Kalau ada kitab nasab bentuknya foto copi dan mengatasnamakan kitab ini, berarti itu kitab nasab palsu, sekalipun isinya benar, kepalsuannya adalah karena kitab nasab itu didapatkannya dgn cara mencuri. Jika kitab nasab itu berupa fotocopi maka ini justru malah bisa menjadi malapetaka, karena bisa jadi akan banyak orang yang memalsukan kitab nasab itu, dan bahayanya lagi jika kitab nasab itu jatuh kepada orang yg membenci Ahlul Bait. Kitab nasab cukup satu orang saja yg memegangnya dan sudah tentu mereka yg memegang kitab nasab itu harus mempunyai sanad keilmuan dalam bidang ilmu nasab sampai kepada Rasulullah SAW.
Arsyul Muluk, Kitab Nasab yg disusun oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, berisi sejarah dan Nasab Walisongo dan nasab2 Azmatkhan seluruh dunia dari era Sayyid Abdul Malik Sampai sekarang dan ditulis dalam versi yg sangat lengkap. Kitab Nasab ini sebagai salah satu bukti kuat dan sahih jika walisongo mempunyai keturunan hingga sekarang.
2. Ilhafun Nadhoir, Kitab Nasab Yang disusun oleh Al habib Zain bin Abdullah Al Kaff, Kitab ini juga isinya banyak dikutif oleh Alhabib Ahmad bin Abdullah Assagaf yg menyusun kitab nasab Khidmatul Asyiroh yg berisi nasab-nasab keturunan keluarga besar walisongo. Banyak yg tidak tahu jika kitab Ilhafun Nadhoir ini ternyata isinya mengambil dari catatan nasab yg disusun oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Husaini. Kitab nasab ini juga sebagai bukti kepada keluarga besar Alawiyyin yg lain jika nasab walisongo terjaga dengan rapi.
3. Syamsu Dzahirah, yg merupakan kitab silsilah keturunan Rasulullah dari jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir yang disusun oleh Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Tarim Hadramaut Yaman). Mengenai tentang Sejarah dan Silsilah Walisongo, secara garis besarnya telah dijelaskan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Mashur, sehingga keberadaan Walisongo sangat diakui oleh penyusun kitab nasab ini. Sampai saat ini kitab Syamsu Dzahirah adalah kitab rujukan yg digunakan Rabithah Alawiyah dalam mendata keturunan Alawiyyin yg ada di Nusantara, khusus untuk keturunan Walisongo, pendataannya diserahkan kepada masing2 keturunannya dan juga khususnya kepada ulama2 ahli nasab keturunan Walisongo.
4. Khidmatul Asyirah, merupakan sebuah kitab ringkasan dari kitab Syamsud Azh-Zhahirah yg disusun oleh As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf yg bertujuan untuk mempermudah mengenal dan memahami nasab2 Alawiyyin. Di Dalam kitab beliau ini nama2 silsilah Walisongo juga telah tercatat dgn baik, bahkan tulisan beliau ini sering dijadikan rujukan beberapa penulis sejarah tentang Ahlul Bait Nusantara. Kitab ini terbit pertama kali tahun 1365 Hijriah di Solo Jawa Tengah.
5. Tarikhul Aulia, Kitab Sejarah dan nasab walisongo yg ditulis dan disusun secara ringkas oleh KH Bisri Mustofa pada tahun 1954. KH Bisri Mustofa adalah ulama besar NU dan terkenal sebagai penulis kitab yg jenius dan produktif, Kitab ini memang tidak terlalu tebal namun menurut kami isinya sangat luar biasa dalam menjelaskan sejarah Walisongo. Sekalipun ada beberapa yg harus diperbaharui, namun kitab ini menurut kami sangat membantu kami dalam mempelajari sejarah dan sebagian silsilah Walisongo. Sebagian isi dari kitab ini sering kami gunakan sbg rujukan penulisan. Kitab ini juga menjelaskan tentang tokoh2 walisongo lain yg jarang dikenal masyarakat.
6. “Het book van Bonang”, buku ini ada di perpustakaan Leiden-Belanda, yg menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. Dokumen ini dibawa Belanda, sudah tentu kita bisa menebak kenapa dokumen sepenting ini bisa jatuh ketangan mereka, Selalu saja, dalam setiap alasan para akademisi belanda mengatakan, jika dokumen ini tidak dibawa ke belanda, mungkin dokumen yg amat penting itu sudah lenyap, sebuah pernyataan yg sefihak dan terkesan meremehkan, kalau dikatakan lenyap, buktinya sampai saat ini diberbagai keraton nusantara masih banyak buku2 kuno yg tersimpan dengan baik. itu artinya klaim akademisi belanda banyak yg tidak benar, buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yg berisi tentang ajaran2 Islam.

7. “Suluk Linglung” sebuah buku karya Sunan Kalijogo. Buku ini berbeda dgn buku ‘Suluk Linglung’ karya Imam Anom yg banyak beredar. Suluk dalam Jawa adalah ajaran filsafat untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dgn Tuhan, suluk merupakan salah satu bentuk ajaran yg termanifestasikan dalam sebuah kitab atau karya. Suluk Linglung Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari sekian ajaran filasafat yg digubah oleh Iman Anom. Suluk Linglung merupakan salah satu karya sastra Sunan Kalijaga yg sampai saat ini masih jarang ditemukan diliteratur Jawa.
Buku ini merupakan terjemahan dari kitab kuno warisan dari sepuh Kadilangu Demak, R.Ng. Noto Subroto kepada ibu R.A.Y Supratini Mursidi, yg keduanya adalah anak cucu Sunan Kalijaga yg ke-13 dan 14. 39 Kitab kuno yg diberi nama Suluk Linglung ini memuat tentang pengobatan dgn menggunakan berbagai ramuan tradisional, azimah yg berbentuk rajah huruf arab serta memakai isim, berbagai macam do’a. Disamping itu suluk merupakan sebuah goresan dalam bentuk bibliografi dari proses kehidupan batin seseorang atau tokoh. Buku kuno ini menggunakan simbol2 prasastri penulisan ngrasa sirna sarira aji yg berarti bermakna 1806 caka bertepatan dgn tahun 1884 Masehi. Buku kuno ini ditulis diatas kertas yg dibuat dari serat kulit hewan yg merupakan transliterasi dari kitab Duryat yg diwariskan secara turun 1temurun oleh keluarga Sunan Kalijaga.
8. “Kropak Farara” atau “Lontar Farara”, buku yg amat penting tentang walisongo ini diterjemahkan oleh Prof. Dr. GJW Drewes ke dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Wahyudi ke dalam bahasa Indonesia. Lontar Ferrara adalah karya tulis yg memuat petuah keagamaan yg diyakini berasal dari Jaman Kawalen. Jaman Kewalen atau Jaman Kuwalen adalah ungkapan masyarakat Jawa dan juga merupakan ungkapan populer yg termuat dalam sejumlah naskah klasik Jawa untuk menyebut era dimana yg diyakini para anggota Wali Sanga hidup). Naskah ini ditulis di atas daun “Tal” (Lontar) yg terdiri dari 23 lembar berukuran 40 x 3,4 cm dan saat ini tersimpan di Perpustakaan Umum Ariostea di Ferrara, Italia (G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo Seputar Makrifatullah, Terjemahan dari An Early Javanese Code of Muslim Ethics penerjemah: Wahyudi, Surabaya: Alfikr, 2002, p. 1).
Oleh karena itu maka naskah ini sering diidentifikasi sebagai “Lontar Ferrara” atau “Kropak Ferrara”. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yg kaffah dan pada saat yg sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru dan harapan agar masyarakat Jawa membebaskan diri dari penyembahan berhala. Naskah ini ditulis dalam kondisi dimana komunitas muslim masih berjumlah sedikit.
9. “Kitab Walisana”, kitab yg disusun oleh Sunan Giri II (Sunan Dalem) bin Sunan Giri bin Maulana Ishak Azmatkhan. Berisi tentang ajaran Islam dan beberapa peristiwa penting dalam perkembangan masuknya agama Islam di tanah Jawa.
10. Kitab Al-Fatawi, sebuah kitab sejarah dan silsilah yg menerangkan tentang Jayakarta (Jakarta) dan juga beberapa kesultanan serta sejarah beberapa anggota Walisongo. Ditulis secara estafet oleh para pencatat sejarah Jayakarta, sejak masa Al Haj Fattahillah hingga kepada masa Al-Al-Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma dari Jayakarta (jakarta). Kitab Al Fatawi terdiri dari 4 jilid, sayangnya satu jilid lagi sudah hilang, sedang yg tiga jilid berhasil diselamatkan oleh cicit dari KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma di Jakarta.

Kitab ini adalah merupakan bukti keberadaan Walisongo dan beberapa Kesultanan Nusantara. Kitab Al-Fatawi ditulis ulang dgn mengambil catatan2 lama dan pada tahun 1910 Masehi resmi menggunakan hurup Arab Melayu. KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma adalah keturunan Raden Fattah. Keberadaan Kitab ini jelas merupakan sebuah bukti bahwa tradisi penulisan pada keluarga Walisongo tetap berjalan lestari, artinya Walisongo itu telah memberikan warisan kepada anak keturunannya berupa warisan intelektual.
Ini saja dulu dokumen dokumen langka dari walisongo yg kami ketengahkan. sebenarnya masih banyak lagi dokumen2 yg dimiliki para ulama ahli nasab walisongo dan juga tersimpan di beberapa keturunan Walisongo. Rata2 ulama keturunan Walisongo cukup produktif dalam menulis kitab, hanya saja keberadaan kitab2 tsb tidak diperuntukan untuk umum, mengingat pada masa lalu sarana dan prasana begitu terbatas. Dikeluarkannya data ini sebagai jawaban kepada orang2 yg mengatakan jika walisongo atau Azmatkhan tidak memiliki catatan sejarah dan nasab.
Adanya dokumen2 penting seperti ini, membuktikan jika keluarga besar walisongo mempunyai budaya tulis menulis yg kuat, dengan kata lain, dunia intelektual dan akademis pada diri mereka tetaplah terjaga. Jadi tidaklah mungkin walisongo yg merupakan keluarga yg terpelajar tidak meninggalkan catatan2 penting terutama sejarah dan nasab mereka. Jadi tidak benar jika walisongo hanya mewariskan cerita2 yg hanya berbau legenda dan mitos, Walisongo itu keluarga terpelajar, mereka banyak yg terdidik dalam pola pendidikan pesantren pada masa lalu, jadi tidak benar jika walisongo mewariskan cerita rakyat semata.
Dengan keterangan dari dokumen2 langka tentang walisongo ini, menunjukkan jika mereka itu adalah intelektual sejati, maka mulai saat sekarang keluarga besar walisongo tidak perlu lagi khawatir terhadap gugatan gugatan tentang sejarah dan nasab walisongo. Semua sudah tersusun rapi dan terjaga dengan baik. Jika masih ada orang yg meragukan sejarah dan nasab walisongo, biarkan saja, yg penting data tentang mereka tetap ada dan terjaga…KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN
KESAKSIAN PERTAMA
Menurut As-Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama’ asli Tarim, Hadramaut, Yaman), berkata: “Keluarga Azmatkhan (Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal hadhramaut Yaman gelombang pertama yang masuk di Nusantara dalam rangka penyebaran Islam (Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati keluarga Azmatkhan) Sesuai dengan namanya, yang berarti “Pemimpin dari keluarga Mulia” .
KESAKSIAN KEDUA
Menurut H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, dia berkata:
“Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India ia bermukim di Naserabad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Naserabad. Ia anak kedua dari Sayyid Abdul malik Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India.
Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang. Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda’wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah
Nama putra Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan Azmatkhan adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda. Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan marga Ba’alawi atau Al-Alawi Al-Husaini.
Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmatkhan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab.
Sayyid Abdullah Azmatkhan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan didalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa.
Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzham Syah Maulana Ahmad.” Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzham” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang Raja, bangsawan dan pemimpin, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama besar.Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”.Maulana Ahmad Syah Mu’azhzham adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Tailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari (?) meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.
Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana’uddin.”
Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tembahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah SAW melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Allah.
Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Tailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.
KESAKSIAN KETIGA:
Menurut Sayyid Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam Kitab Nasab yang bernama Al-Jawahir Al-Saniyyah, berkata: “Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih”.
KESAKSIAN KEEMPAT:
Menurut Ad-Dawudi dalam Kitab Umdatut Thalib berkta, “”Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih, dan keturunannya masih ada sampai sekarang ini melalui jalur Walisongo di Jawa”.
KESAKSIAN KELIMA:
Penelitian sayyid Zain bin abdullah alkaf dalam kitab Ilhaafun Nazhooir yang dikutip dalam buku khidmatul ‘asyirah karangan Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf; MEMBENARKAN & MEM-VALID-KAN nasab jalur Azmatkhan. (Lihat Kitab Khidmatul Asyirah, halaman 1 dan juga di lauhah terakhir kitab Khidmatul Asyirah tentang Walisongo)
KESAKSIAN KEENAM:
Penelitian Al-Alammah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Husain Al-Masyhur dalam Kitab Syamsud Zhahirah, yang memvalidkan nasab jalur Azmatkhan.
KESAKSIAN KETUJUH:
Kesaksian dari Sayyid Ali bin Ja’far Assegaf Palembang.
Bermula silsilah wali songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu ushuluddin dan alquran. Dalam silsilah tersebut tercatat nasab seorang Alawiyin bernama sayid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar pangeran dan raden, nasab Muhammad Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri.
KESAKSIAN KEDELAPAN:
Penelitian As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif
KESAKSIAN KESEMBILAN:
Fakta dan bukti-bukti catatan nasab dari beberapa kerajaan dan kesultanan yang terhubung sebagai dzurriyyah Walisongo Azmatkhan. Seperti Kesultanan Palembang, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Giri Kedathon, Kesultanan Ampel Denta, Kesultanan Demak, Kesultanan Jepara dan lain-lain.
KESAKSIAN KESEPULUH:
Rapinya catatan nasab keluarga besar Kyai Marogan, di Palembang, yang menulis bahwa Husain Jamaluddin adalah bernasabkan ke Abdul Malik Azmatkhan dan merupakan leluhur walisongo. Sampai sekarang nasab ini terpasang di Kantor Takmir Masjid Muara Ogan.
KESAKSIAN KESEBELAS:
Rapinya catatan nasab dari keturunan Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta, yang menyimpan data tentang Walisongo, yang menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.
KESAKSIAN KEDUABELAS:
Rapinya catatan Nasab dari NAQOBAH KESULTANAN BANTEN tentang keturunan Sunan Gunung Jati, yang merupakan bagian dari Walisongo, yang berasal dari berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.
KESAKSIAN KETIGABELAS:
Rapinya catatan Nasab dari KERATON KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM tentang keturunan Sunan Giri dan walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan. Data tersebut tersimpan di Keraton Kesultanan Palembang Darussalam.
KESAKSIAN KEEMPATBELAS:
Rapinya catatan Nasab dari KH. Ubaidillah dan KH. Zaid (Ketua Takmir Masjid dan Ketua Makam Sunan Ampel Surabaya) tentang data keturunan Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Derajat dan Walisongo. yang menyebutkan bahwa Walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.Bisa dihubungi dan dicek ke rumahnya di sekitar pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.
KESAKSIAN KELIMABELAS:
Rapinya catatan Nasab dari KH. Kholil Bangkalan dan Habib Bahruddin Azmatkhan yang mendata nasab semua keturunan Sunan Kudus, yang menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.
KESAKSIAN KEENAMBELAS:
Rapinya catatan nasab dari KH. Adlan Ali Cukir Tebuireng, Pendiri Pesantren Walisongo, yang mendata nasab keturunan Sunan Derajat dan Walisongo, dan menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.
KESAKSIAN KETUJUHBELAS:
Rapinya catatan nasab dari KH. Said Al-Hafizh dan KH.Mustaghfirin Said Al-Hafizh (Pengasuh Pesantren Tahfizhul Qur’an Nurush Sholihin Jember) tentang nasab Sunan Giri dan walisongo, dan menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.
KESAKSIAN KEDELAPANBELAS:
Rapinya catatan nasab dari KH.Lutfi Bashari Alwi (Pengasuh Pesantren Ribath Al-Murtadha, Singosari Malang dan Putra Pendiri Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Malang, dan merupakan murid terdekat Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Makkah Al-Mukarramah) tentang data nasab Walisongo. dan menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.
KESAKSIAN KESEMBILANBELAS:
Rapinya catatan nasab dari keluarga KH. As’ad Syamsul Arifin Asembagus, Situbondo, Jawa Timur dan Kitab Nasab Jawahirul Ansab yang menyebutkan tentang nasab lengkap walisongo, bahwa ia berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.
KESAKSIAN KEDUAPULUH:
Rapinya catatan Nasab dari KH. Damanhuri Batuampar, Madura tentang walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.1.Nasabnya bagi orang yang sudah memakai nama Azmatkhan harus pasti berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara sanad, dan nasab harus dari garis laki-laki mutlak, seorang Azmatkhan tidak boleh memakai gelar Azmatkhan bila ia ternyata dari keturunan dari pihak perempuan, karena setiap nasab berasal dari laki-laki, sehingga ini juga nanti akan berimbas pada pemakaian gelar Fam/Marga.
2.Pemakaian nama Azmatkhan bukan untuk pamer tapi untuk dijadikan suri tauladan atau untuk tabarukkan.
3.Bagi mereka yang memakai nama Azmatkhan diharapkan untuk selalu menjaga akhlak baik itu perilaku maupun lisan, apabila ada Azmatkhan yang perilakunya tidak baik, berarti dia tidak faham dengan arti nama dari Azmatkhan itu sendiri.
4.Bagi mereka yang tidak memakai nama Azmatkhan tapi keturunan Azmatkhan, itu adalah hak masing-masing setiap individu.
5. Bagi mereka yang tetap tidak mau memakai nama Azmatkhan karena pengaruh adat dan istiadat setempat atau pengaruh dari budaya Kesultanan pada masa lalu, hal itu tidaklah mengapa, yang penting silaturahim sesama keluarga besar Azmatkhan tidak terputus.
6.Bagi mereka yang memakai nama Azmatkhan jangan dicap kalau itu bertujuan untuk riya, karena kita semua tidak mungkin tahu apa isihati dari si pemakai nama tersebut.
7.Bagi yang mengatakan bahwa yang memakai nama Azmatkhan menyalahi langkah dan ajaran Walisongo yang mengedepankan pembauran, maka menurut kami harus dilihat konteksnya pada masa itu dan juga pada masa sekarang.
8.Jika ada yang menganggap kalau Azmatkhan adalah mastur, maka kini Azmatkhan sudah saatnya memunculkan dirinya untuk berprestasi dan memberikan sumbangsih kepada ummat, kepada mereka yang ingin mastur, maka biarkanlah mereka dengan cara seperti itu yang penting semua Azmatkhan mempunyai peran kehidupan di tengah masyarakat.
9. Bagi yang sering mengatakan jika keturunan Azmatkhan sudah terputus dengan generasi sekarang, maka kami menyarankan agar mereka untuk terus menggali data-data yang ada serta melakukan tabayyun secara baik-baik dengan keluarga besar Azmatkhan yang ada sekarang ini, Insya Allah keluarga besar Azmatkhan akan secara terbuka melakukan konfirmasi tentang nasab Azmatkhan ini.
10.Bagi mereka yang sering mendekriditkan kata “Azmatkhan”,maka ketahuilah bahwa Azmatkhan itu adalah gelar kehormatan yang mengandung nilai-nilai kebaikan, sehingga tidak layak jika nama ini dijadikan olok-olok atau untuk menghina nasab orang, karena pemilik pertama nama ini adalah seorang ulama besar dan juga merupakan Waliyullah.
11.Kepada semua pihak apabila ada keluarga Azmatkhan yang perilakunya tidak baik, maka tegurlah mereka, ajari mereka agar lebih baik,jangan biarkan mereka tenggelam dengan ketidaktahuan mereka akan perbuatannya.
12.Kepada semua pihak apabila ada didapati Azmatkhan yang tidak mencerminkan dirinya sebagai keturunan Rasulullah SAW dengan perbuatan-perbuatan yang identik dengan kemaksiatan, maka janganlah itu dipukul rata sebagai perilaku umum keluarga besar Azmatkhan atau Alawiyyin pada umumnya, percayalah bahwa dalam ajaran Azmatkhan semua bersumber dari Akhlak dan budi pekertinya leluhur mereka yaitu Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW yang menjadi Rahmatan
imam Annaqib Alhabib prof. Dr. Shohibul Faroji Azmatkhan Baalawi alhusaini.
*Ketua lembaga resmi asyrof azmatkhan ahlulbait internasional*
BIOGRAFI SYAIKH AS-SAYYID Prof. DR. KH. Rd. Shohibul Faroji MA. Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini.
Repost oleh: Luqman Hakym Mohammad
Syekh Sayyid Shohibul Fahroji Azmatkhan Ba’alawi ( bernama lengkap Shohibul Fahroji Azmatkhan Ba’alawi al-husaini ibn muhammad mishbah ibn bahruddin azmatkhan ; lahir di banyuwangi 25 jumadil akhir 1397 H/13 juni 1977 M) Adalah tokoh sufi yang berasal dari Indonesia di abad ke 20 masehi .
Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan ini adalah Sosok Mursyid dari beberapa Tarekat sufi.
Beliau adalah pemilik sanad dari 30 tarekat yaitu tarekat Alawiyyah, tarekat qodiriyah, tarekat naqsyabandiyah, tarekat syadziliyah, tarekat sanusiyyah, tarekat maulawiyyah, tarekat nur muhammadiyyah, tarekat khidiriyyah, tarekata hadiyyah, tarekat suhrawardiyyah, tarekat kubrawiyyah, tarekat khalwatiyah, tarekat azmatkhaniyyah, tarekat walisongo, tarekat badawiyyah , tarekat banawa, tarekat ghazaliyah, tarekat imdadiyah, tarekat khaliliyyah, tarekat madariyah, tarekat malamatiyyah, tarekat naffariyah, tarekat quraniyyah, tarekat qutubiyyah, tarekat sabariyyah, tarekat samaniyyah dan tarekat syattariyah.
Beliau juga telah berguru kepada para ulama’ dan mursyid yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung kepada keilmuan Nabi Muhammad SAW, di antara para gurunya adalah:
Asy-Syaikh As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan, guru tarekat, fiqih Syafi’i, tafsir, dan tauhid. Kepada syaikh ini, Syaikh Shohibul Faroji menerima beberapa ijazah sanad kemursyidan dan kepada guru ini pula, ia belajar kitab ansab.
Asy-Syaikh KH. ‘Adlan ‘Ali Azmatkhan, guru Tahfizhul Qur’an, pendiri Pesantren Walisongo, Cukir, Tebuireng, Jombang). Kepada syaikh ini, Asy-Syaikh Shohibul Faroji menerima ijazah sanad Tahfizhul Qur’an yang bersambung kepada sanad Rasulullah.

Asy-Syaikh Yusuf Masyhar, guru Tahfizhul Qur’an, pendiri Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang). Kepada syaikh ini, Asy-Syaikh Shohibul Faroji menerima ijazah sanad Tahfizhul Qur’an yang bersambung kepada sanad Rasulullah.
Asy-Syaikh Marzuki Muslih, guru Nahwu Shorof Balaghah. Kepada syaikh ini, Asy-Syaikh Shohibul Faroji menerima ijazah sanad nahwu-shorof-balaghah.
Prof. KH. Ibrohim Hosen, mantan Ketua Umum MUI. Kepada profesor ini, Syaikh Shohibul Faroji belajar Ushul Fiqih, Qawaidul Fiqhiyyah, dan Fiqih Muqaranah (perbandingan Madzhab), dan mendapatkan sanad keilmuan bidang Ushul fiqih, Qawaidul Fiqhiyyah dan Fiqih Muqaranah
Asy-Syaikh Asy-Syarif As-Sayyid Abdus Salam Al-Masyisyi Al-Hasani, ulama besar Libanon.
Asy-Syaikh Asy-Syarif As-Sayyid Faidullah bin Musa Al-Hakkari Al-Masyisyi Al-Hasani, ulama besar Libanon.
Asy-Syaikh Asy-Syarif As-Sayyid Muhammad Yahya bin Muhammad Al-‘Abid As-Sanusi Al-Hasani, ulama besar Libya.
Asy-Syaikh Asy-Syarif As-Sayyid Mahdi bin Mahmud Al-Umry Al-Hasani, ulama besar Marokko.
Asy-Syaikh Asy-Syarif As-Sayyid Mustafa bin Abdurrahman Asy-Syarif Al-Hasani, ulama besar Marokko.
Asy-Syaikh Asy-Syarif As-Sayyid Muhammad Nur bin Muhammad Ibrahim Al-Kutbi Al-Hasani, ulama besar Haramain.
Asy-Syaikh Asy-Syarif As-Sayyid Muthahar bin Jamsid Al-Khayyath Al-Maddah Al-Hasani, ulama besar Irak.
Syekh Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi juga merupakan Mufti dan faqih di Islamic Mint Nusantara. Tugasnya adalah mengeluarkan Fatwa. Ia mengeluarkan fatwa tentang Berat dan Kadar Dinar Islam.
Syekh Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi juga aktif di beberapa organisasi seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Masyarakat Ekonomi Syari’ah (MES).
Gelar Azmatkhan diberikan karena ia keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, yaitu seorang Sayyid yang lahir di Tarim,Hadramaut dan kemudian menjadi Raja di India. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan adalah leluhur Walisongo.
(Kelahiran, Silsilah dan Nasab).
Silsilah Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi, dari ayahnya melalui Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan Sunan Kudus, dan dari ibunya melalui Sayyid Abdul Hamid Ba’abud Kharbasyani Pangeran Diponegoro .
Silsilah keluarganya adalah Sebagai berikut :
Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini bin
Sayyid Muhammad Misbah bin
Sayyid Bahruddin bin
Sayyid Abdur Razzaq bin
Sayyid Musthafa bin
Sayyid Mujtaba bin
Sayyid Makkiy bin
Sayyid Sulaiman bin
Sayyid Hasan bin
Sayyid Abdul Wahid bin
Sayyid Yusuf bin
Sayyid Ahmad Baidhawi bin
Sayyid Shalih bin
Sayyid Amir Hasan bin
Sayyid Ja’far Shadiq Sunan Kudus bin
Sayyid Utsman Haji Sunan Ngudung bin
Sayyid Fadhal Ali Murtadha bin
Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin
Sayyid Jamaluddin Husain bin
Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
Sayyid Abdullah bin
Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
Sayyid ‘Alwi Ammil Faqih bin
Sayyid Syekh Muhammad Shahib Mirbath bin
Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
Sayyid Alwi bin
Sayyid Muhammad bin
Sayyid Alwi bin
Sayyid Ubaidillah bin
Imam Ahmad al-Muhajir bin
Imam Isa Al-Muhajir bin
Imam Muhammad An-Naqib bin
Imam Ali Uraidhi bin
Imam Ja’farbin
Imam Muhammad al-Baqir bin
Imam Ali Zainal Abidin bin
Imam al-Husain bin
Imam Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti
Rasulullah SAW.
(Masa Muda).
Tradisi Spiritual dibiasakan sejak ia masih kanak-kanak
Dalam usia 7 tahun Syaikh Shohibul Faroji Azmatkhan sudah dididik oleh kakeknya Mursyid Tarekat Walisongo, yaitu Syekh Bahruddin Azmatkhan. Dan telah hafal Al-Qur’an 30 Juz pada usia 14 tahun.
Selanjutnya Menghafal Kitab Hadits Riyadus Shalihin, pada usia 16 tahun. Dan memperdalam Ushul Fiqih, Fiqih Muqaranah, Ushul Hadits, Kitab-kitab tasawwuf, tafsir Al-Qur’an dan Kitab-Kitab Nasab.
(Karya).
Syaikh Shohibul Faroji Azmatkhan telah menulis berbagai karya di bidang tauhid, Tafsir, Hadis, Fiqih, Ushul Fiqih, dan ilmu-ilmu ma’rifat. Daftar karyanya antara lain:
Panduan Menuju Pencerahan Ruhani
Tafsir Ma’rifatullah,
Tafsir Liqa’ Allah.
Tafsir Mahabbatullah
Tafsir Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Tafsir Dinar Dirham Islam
Tafsir Midadurrahman
Hadits Dinar Dirham Islam
Fiqih Dinar Dirham Islam
Fiqih Pasar Islam
Fiqih Baitul Mal’
Fiqih Masjid
Fiqih Khilafah Islam.
TAFSIR MIDADURRAHMAN, TAFSIR AL-QUR’AN TERLENGKAP DI INDONESIA
BY DEWAN MASJID INDONESIA • 4 YEARS AGO • HIKMAH, BERITA
DMI.OR.ID, JAKARTA – Peluncuran perdana (Grand Launching) Tafsir Midadurrahman sebanyak 115 volume karya Mufti Kesultanan Palembang Darussalam, Asy-Syaikh KH. Shohibul Faroji Azmat Khan, M.A., telah berlangsung pada Sabtu (27/2), bertempat di Baitul Qur’an dan Museum Istiqlal Taman ini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Dalam acara ini, Syaikh Shohibul Faroji Azmat Khan juga mendapatkan anugerah dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Penulis Tafsir Al-Qur’an Terlengkap: 30 Juz, 115 Volume.
Penghargaan serupa diberikan Museum Rekor Terhebat Indonesia (MURTHI) dalam bentuk Anugerah Rekor Supranatural Indonesia (RESI) atas Pencapaian Prestasi yang Luar Biasa, Golden Achievement Cultural Award, (Menulis Tafsir Midadurrahman 115 vol). Bahkan Museum Rekor Nahdlatul Ulama (MRNU) juga memberikan penghargaan sejenis.
Turut hadir Sultan Palembang Darussalam, Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, yang juga Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara (YARASUTRA). Sultan Iskandar hadir untuk memberikan sambutan atas terbitnya Tafsir Midadurrahman ini. Ia juga memberikan kata pengantar dalam Tafsir Midadurrahman ini.
Hadir juga Ketua Umum Forum Silaturahmi Takmir Masjid dan Mushalla Indonesia (Fahmi Tamami), H. Rhoma Irama. Bahkan aktor yang dikenal sebagai raja dangdut itu juga memberikan kata pengantar dalam Tafsir Midadurrahman ini.
Acara ini diselenggarakan bersama oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), MURI, Majelis Dakwah Wali Songo, dan YARASUTRA, serta Majelis Pimpinan Pusat (MPP) Fahmi Tamami.
Sejumah tokoh agama juga memberikan kata pengantar dalam kitab Tafsir Midadurrahman ini, yakni Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat, DR. KH. Makruf Amin, Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., dan pakar tafsir Al-Qur’an, Prof. Dr. H. Quraish Shihab, M.A.
Tafsir Midadurrahman ini sangat istimewa karena menjadi tafsir Al-Qur’an yang terpanjang di Indonesia, bahkan di dunia. Tafsir ini terdiri dari 8.500 halaman atau 115 volume dan terbagi dalam 30 juz. Tafsir ini merupakan karya ke 30 Syaikh Shohibul Faroji yang telah ditulis sejak usia 14 tahun dan membutuhkan waktu 22 tahun untuk menyelesaikannya hingga kini.
“Tafsir Midadurrahman ditulis dengan metode sanadiyyah yang sanadnya bersambung dari ulama-ulama Nusantara, melalui Wali Songo, hingga sanad Rasulullah Muhammad SAW,” tutur Syaikh Shohibul Faroji pada Rabu (20/4) pagi, dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID.
Tafsir ini, lanjutnya, merupakan rangkaian dari 313 tafsir-tafsir sebelumnya, serta dikaji secara kritis dan mendetail dari berbagai perspektif ilmu Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan umum.
“Tafsir Midadurrahman ini ditulis dalam bahasa Arab dengan harapan dapat dibaca dan dipelajari oleh ummat Islam di seluruh dunia, khususnya di pesantren-pesantren, universitas Isam, beragam organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, partai-partai politik Islam serta para peneliti Al-Qur’an di seluruh Indonesia dan di dunia,” ungkap Syaikh Shohibul Faroji.
Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani
Syekh Sayyid Hafiz Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi (bernama lengkap Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini ibn Muhammad Mishbah ibn Bahruddin Azmatkhan; (bahasa Arab:الشيخ السيد صاحب الفرج عظمت خان باعلوي الحسيني) ; lahir di Banyuwangi 25 Jumadil Akhir 1397 H/ 13 Juni 1977 M) adalah tokoh sufi dan alawiyyin yang berasal dari Indonesia.[1]
Nasab Syekh
Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan melalui ayahnya adalah keturunan Sayyid Ja’far Shadiq Sunan Kudus, dan melalui ibunya adalah keturunan Pangeran Diponegoro.
Gelar Azmatkhan diberikan karena ia keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, yaitu seorang sayyid yang lahir di Tarim, Hadramaut, dan kemudian menjadi raja di India.
As-Sayyid Qadir bin
As-Sayyid Makkiy Azmatkhan (Mufti Besar Hijaz dari Pemerintahan Amir ‘Abdullah Kamil Pasha bin Muhammad), Menikah dengan Maryam (puteri Ke-2) binti Imam Nawawi Al-Bantani Azmatkhan (dan hidup di Makkah). Memiliki 2 anak di antaranya adalah Mujtaba dan Muhammad, Wafat di Madinah Al-Munawwarah, 1877 M/ 1294 H, memiliki anak yaitu:
As-Sayyid Mujtaba Azmatkhan (Pangeran Macan Putih I/ Sultan Blambangan Islam/ Sultan Tawang Alun, Menikah dengan putri bungsu Pangeran Diponegoro, yaitu Radin Ayu Putri Muna Adimah Sughra binti Pangeran Diponegoro, dan memiliki 2 anak laki-laki yaitu: Mustafa dan Ali (alias Nawawi). Wafat di Banyuwangi 1897 M/ 1315 H, memiliki anak yaitu:
As-Sayyid Musthafa Azmatkhan (Pangeran Macan Putih II), Menikah dengan Syarifah Hamatun Mujahidah (Hamatun II) binti Imam Bonjol, Wafat di Banyuwangi 1917 M/ 1335 H, memiliki anak yaitu:
As-Sayyid Abdurrazzaq Azmatkhan (Pangeran Macan Putih III), Menikah dengan Ummu Banin binti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Wafat di Banyuwangi 1937 M/ 1356 H, memiliki anak yaitu:
As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan (Panembahan Wali Qutub II), Menikah dengan Amnah binti Munir bin Siraj bin Abdullah Faqih, Wafat di Banyuwangi 1992 M/ 1413 H, memiliki anak yaitu:
As-Sayyid Muhammad Misbah Azmatkhan (Pangeran Tawang Alun II), Menikah dengan Salmah binti Muhammad Mubin Azmatkhan, melahirkan anak bernama:
As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh (Syekh Mufti Pangeran Penghulu Nata Agama)
The Ahlulbayt Nasab Center Maktab Of Morocco, Ensiklopedi Nasab Of Imam Husain,0009/MAA/Azmatkhavn/Al-husaini/V/2011, Rabat Morocco
The South Asian Community Of Azmatkhan Al-Husaini Family, Maktab Of India, Ensiklopedi Nasab Of Imam Husain,1431H/02/0099, Nasirabad-Haidarabad-India.
Sumber,” Azmatkhan Al Husaini Azmatkhan.
