MARTAPURA, GLOBALMARTAMEDIA.COM
- @ Membuka Jendela Dunia.
Kalsel/ Sesungguhnya tidak tampaknya khususiyah Ahlu Bait Rasulullah SAW beserta kesempurnaan mereka dihadapan manusia seluruhnya adalah Rahmat, karena andaikata khususiyah dan kesempurnaan ini ditampakkan, maka wajib (artinya pasti) bagi siapapun yg mengetahuinya untuk menghormati dan mengagungkan keistimewaan dan kesempurnaan mereka dengan pengagungan yang pantas atas mereka. Dan pengagungan ini adalah hal yang membuat manusia terhebat sekalipun tidak mampu menanggung bebannya. Maka apa yang tampak dari sifat basyariyah ahlu bait adalah Hijab atas khususiyah mereka. MAHABBAH adalah cara awal dalam membuka lapis lapis Hijab yg amat rapat ini. Dan dengan mencintai mereka, kian tampak cahaya yang akan menerangi kita dan akan menuntun kita kepada kebenaran yg nyata. Sedangkan kebencian terhadap mereka akan menampakkan kebalikannya.
(Bahjatut Tholibin. Hb Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Hal. 30).
Ditengah masyarakat masih banyak yang belum faham mengapa sampai ada kaum atau golongan yang disandangkan predikat khusus dengan panggilan Habib, Sayyid, Syed, Syarif dll, begitupun dengan kebiasaan-kebiasaan mereka semisal dalam memilihkan jodoh buat anak perempuannya (Syarifah) dengan seorang Sayyid. Mungkin karena ketidaktahuan, ada juga yang bernada melecehkan, dengan mengatakan bahwa Panggilan Habib atau Sayyid adalah Panggilan Kesombongan, mengapa Nasab mereka perlu dijaga, Nasab atau Silsilah dan Kafaah Syarifah hanya bentuk Diskriminasi Sosial. Inilah pandangan yang keliru yang perlu diluruskan. Semoga tulisan ini minimal sedikit menjawab itu semua.

Makna Panggilan dan Kefamilian Marga/Fam/Bangsa Dzurriaturrasul
Habib, Sayyid, Syarif dan lain-lain merupakan panggilan yang sering kita dengar untuk sebutan keturunan Rasulullah Saw. Banyak yang mempertanyakan asal muasal pangilan atau gelar tersebut, bagaimana sejarahnya hingga panggilan-panggilan akrab tersebut dipredikatkan pada orang-orang yang memiliki hubungan biologis dengan Nabi. Kemuliaan Genetika yang dimilikinya bukan kemauan sendiri tapi merupakan karunia dan takdir ilahi yang patut di syukuri. Kemuliaan dzatiyah (genetika) ini merupakan Keutamaan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang lain. Sebab mereka secara kodrati dan menurut fitrahnya telah mempunyai keutamaan karena hubungan darah dan keturunan dengan manusia pilihan Allah yaitu nabi Muhammad Saw, apalagi jika dipadukan dengan ketakwaan. Sebagaimana ayat yang terdapat dalam alquran surat al-An’am ayat 87, berbunyi:
ومن أبآئهم وذرّيّتهم وإخوانهم …
“(dan kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka…”
Ayat di atas jelas memberitahukan bahwa antara keturunan para nabi, (khususnya keturunan nabi Muhammad Saw), dengan keturunan lainnya terdapat perbedaan derajat keutamaan dan kemuliaan, hal ini didasari oleh sabda Rasulullah Saw yang ditulis dalam kitab Yanabbi’ al-Mawwadah:
نحن اهل البيت لا يقاس بنا
“Kami Ahlul Bait tidaklah bisa dibandingkan dengan siapapun”
Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahj al-Balaghoh berkata,
‘Tiada seorang pun dari umat ini dapat dibandingkan dengan keluarga Muhammad Saw,
Sepanjang sejarah bersamaan Kemulian Dzatiyah yg disandangnya, mereka tidak pernah luput dari fitnah, cemohan, ejekan, celaan, dll dari orang-orang yg tidak menyukainya. Mereka yang benci bahkan tidak segan-segan memutar balikkan sejarah, dan lebih gila lagi banyak hadist-hadist dan riwayat yang berkaitan dengannya dimanipulasi dan dipalsukan agar keutamaan dan kemuliaannya ditutup-tutupi sehingga tenggelam dan hilang dalam sejarah. Golongan mereka ini sudah ada sejak Nabi masih hidup dan dizaman sekarang masih banyak orang-orang seperti mereka, sehingga Allah SWT mengabadikan mereka dalam Surat Al Kautsar. Mengapa mereka begitu iri, dengki, dan benci ???….wallahu a’lam
Meskipun begitu banyak upaya orang-orang yang membencinya, bahkan ada yang lebih keji, mengejar, menyiksa dan bahkan membunuhnya, tapi tiada yang menandingi Kuasa Allah yang senantiasa menyelamatkan Keturunan Mulia sang kekasihnya Rasulullah Saw. Begitupun begitu banyak Hadist-hadist dan riwayah yang menjelaskan kemuliaannya sehingga upaya orang-orang yang berusaha menutupi sejarahnya berakhir dengan sia-sia.
Sejak peristiwa sejarah islam yang kelam, banyak diantara mereka menyebar dengan membawa Tariqah Datuknya & Nasabnya dan hidup zuhud, waktunya lebih banyak dihabiskan dengan ibadah-ibadah sunnat, membasahi bibirnya dengan wird dan hizb dan berusaha semaksimal mungkin mengikuti semua akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Orang-orang yang berada disekelilingnya begitu memuliakannya karena akhlak dan ilmunya, sehingga banyak dari mereka berguru dan menuntut ilmu. Untuk membedakan dengan orang-orang kebanyakan, masyarakat mulai mempredikatkan panggilan khusus dalam memuliakan kaum keturunan nabi tersebut, sebagaimana hadits Rasulullah saw bersabda, yang artinya
“Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin (sayyid) pemuda ahli surga”
(Seraya menunjuk kedua cucu beliau, Sayyidina Hasan dan Husain).
Karena cintanya mereka pada Nabi saw maka menamakan keturunanya sebagai Sayyid (pemimpin) atau Habib (kekasih). Di beberapa negara, sebutan untuk dzurriyat Rasul saw ini berbeda-beda. Di Maroko dan sekitarnya, mereka lebih dikenal dengan sebutan Syarif (dimuliakan), di daerah Hijaz (Semenanjung Arabia) dengan sebutan Sayyid (Pemimpin), di sekitar malaysia dikenal dengan panggilan Syed sedangkan di nusantara umumnya mereka dikenal dengan sebutan Habib (kekasih). Untuk kalangan perempuan mereka biasa dengan sebutan Sayyidah, Syarifah atau biasa disingkat dengan sebutan “ipa”.
Mengenai panggilan atau gelar-gelar yang disandangnya pun mengalami beberapa kali perubahan dilihat dari urutan waktu sejarahnya.
Menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatri dalam bukunya Sirah al-Salaf min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum ‘Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah:
1. IMAM (dari abad III H sampai abad VII H).
Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.
2. SYAIKH (dari abad VII H sampai abad XI H).
Tahapan ini dimulai denganmunculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf. SYAIKH berarti Guru. Dengan berkembangnya Ilmu Tasauf dalam kalangan dzurriah, banyak bermunculan dari kalangan mereka yang telah mencapai al-mujtahid al-mutlaq dalam ilmu syariat di usia dini. Setiap dari mereka memiliki karakter khusus sehingga banyak pengikutnya pun menamainya sesuai dengan karakter dan prilakunya, seperti Abdurahman al-Saqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah Ia digelari al-Saqqafkarena kedudukannya sebagai pengayom dan Ilmu serta tasawufnya yang tinggi. Dan Anaknya Umar Al Muhdhar. Ia juga sangat terkenal karena kedermawanannya. Waliyullah Abu bakar Al-Sakran, Digelari dengan al-Sakran , karena beliau mabuk dengan cintanya kepada Allah SWT. Waliyullah Abu Bakar Basyeban (berambut putih, padahal beliau masih muda), waliyullah Abdurrahman bin Aqil bin Salim al-Attas, menurut Habib Ali bin Hasan al-Attas (shohib al-Mashad) dalam kitabnya al-Qirthos Fi Manaqib al-Habib Umar bin Abdurahman al-Attas mengatakan bahwa pemberian gelar al-Attas (bersin) dikarenakan keramatnya, yaitu bersin dalam perut ibunya seraya mengucapkan Alhamdulillah, yang mana perkataan tersebut didengar oleh ibunya. Menurut Habib Ali yang pertama kali bersin dalam perut ibunya yaitu Aqil bin Salim, saudara kandung Syaikh Abu Bakar bin Salim, selanjutnya gelar tersebut dipakai oleh anaknya yang bernama Abdurahman. Begitupun gelar-gelar yang lain yang terus dipakai untuk memudahkan mengenal anak keturunannya (Marga dan Nasabnya) seperti Al Aydrus, Al Haddad, Al Jufri, Al Baharun, AlJamalullail, Al Bin Syihab, Al Hadi, Al Banahsan, Al Bin Syaikh Abu Bakar, Al Haddar, Al Bin Jindan, Al Musawa, AlMaulachila, Al Mauladdawilah, Al Bin Yahya, Al Hinduan, Al Aidid, Al Habsyi, Al Hamid, dll
3. HABIB (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV).
Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum ‘Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan Al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, Al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina.
Tokoh utama ‘Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa. Pada tahap ini juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.
4. SYARIF & SAYYID (mulai dari awal abad XIV ).
Tahap ini ditandai kemunduran kecermelangan kaum ‘Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar,
Sayyid Muhammad Alwi Almaliki Alhasani.
Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa “Alawiyin” atau ” qabilah Ba’alawi” dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika.

Mengenai Julukan kaum Alawy atau Alawiyyin, yaitu pada abad-abad pertama hijriah julukan Alawy digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Imam Ali bin Abi Thalib, baik nasab atau keturunan dari imam hasan julukan dipanggil syarif / sayyidah, Sedangkan keturunan dari iman husin julukan dipanggil sayyid / syarifah dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti persahabatan akrab disebut habib (cinta). Kemudian sebutan itu (Alawy) hanya khusus berlaku bagi anak cucu keturunan Imam al-Hasan dan Imam al-Husein. Dalam perjalanan waktu berabad-abad akhirnya sebutan Alawy hanya berlaku bagi anak cucu keturunan Imam Alwy bin Ubaidillah bin Imam Ahmad bin Isa. Alwi mempunyai anak Ali (Kholi’ Qasam). Ali diberi laqob “Kholi’ Qasam” sebagai nisbah kepada negeri al-Qasam yang merupakan tempat mereka di negeri Bashrah, di mana dari tempat itu ia mendapat harta dan membeli tanah di dekat kota Tarim di Hadramaut dengan harga 20.000 dinar dan ditanaminya pohon kurma untuk mengenang kota Qasam di Bashrah yang tadinya dimiliki oleh kakeknya al-Imam Ahmad al-Muhajir yang merupakan tanah yang luas di sana di dekat teluk Arab dan penuh dengan kurma pada masa itu.
Begitulah sekilas asal muasal pemberian panggilan “habib” atau sejenisnya oleh orang-orang kepada keturunan Nabi, Jadi pada dasarnya panggilan atau gelar tersebut hanya berupa bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad saw terhadap keluarga dan keturunannya. Begitupun mengenaiGelar Kefamilian Marga/Fam/Bangsa yg biasa disandang di belakang namanya merupakan identitas khusus yg disesuaikan dengan karakter Datuknya dan dinisbah.
Semoga Bermanfaat.
Sumber,” Habib Yusuf Bahasyim/elg (Gmm)

