MARTAPURA, GLOBALMARTAMEDIA.COM
- @ Membuka Jendela Dunia.
Kalsel/ Perang Banjar Sejak 1857 sampai 1906 Perang di pimpinan pangeran Hidayatullah di Banjar hulu sungai banua lima. Martapura Pelaihari Tanah laut, Pulau Laut, Kotabaru Pasir, Muning, Rantau Kandangan Pantai Hambawang, Barabai, Nagara, Amandit, Amuntai, dan Paringin, Sejarah mencatat paling lama perang dinusantara. (16/01/2020)

Ahli sejarah Perang Banjar mengatakan,” Pengungsian besar besaran berjumlah kurang lebih 552 ribu rakyat Banjar, Orang Banjar mengungsi besar besaran keluar daerah. Ke Sumatra Malaysia dan menyebar seluruh Nusantara. Semua gelar jabatan nama sayyid, Pangeran dan Gusti di hapus Belanda sejak 1880 akibat perang Banjar pecah sejak 1857 sampai 1906, Para Habaib dan ulama di buru karena di anggap penjajah penghalang bagi niat busuk mereka. Kemudian di sambung lagi dengan Perang Revolusi karena pengkhianatan anak bangsa sendiri,” Ungkapnya.

Perang kemerdekaan hingg jepang masuk 1942 sampai Nica 1948, terus di sambung lagi 1950 perang saudara dengan gerobolan sampai 1960, di sambung lagi jaman Komunis (PKI) 1964 berakhir pertikaian tahun 1968. Baru di rasa aman keadaan di Kalimantan (Borneo) setelah diatas tahun 1970 an. Catatan di ambil dari kisah orang tuha bahari dan arsip. Mereka bercerita dan mereka ingin melihat anak bangsa ini terlepas dari penindasan bangsa asing dan Penghianatan anak negri sendiri.

Sambil menulis sejarah ini mereka Meneteskan air mata. Manangis Terharu mengenang perjuangan pejuang Islam Banjar yang tulus untuk kedamaian anak cucu kelak, Namun pengorbanan mereka di balas dengan penghianatan Saudara yang Sedarah, seiman dan sebangsa. Nilai patriot yang ditanamkan para ulama dan Habaib sirna dengan datangnya tabiat dan watak yang serakah ingin menjadi yang terhebat,” Tutupnya.
Sumber,” Hbb ysf bhsm/elg (Gmm)

