Adat Ba Ayun Pedalaman Banjar.

BANUAHALAT, GLOBALMARTAMEDIA.COM

  • @ Membuka Jendela Dunia.

Kalsel/ Panitia pelaksana Masjid Al Mukarramah untuk Ba ayun Mulud masyarakat Suku Banjar yang di Ketuai oleh,” Ustadz Misran Ahmad, Desa Banua Halat, Tapin. Masyarakat Banjar masih sangat kental dengan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka, terutama pada masyarakat yang hidup di pedalaman, Acara puncak yakni tepat tanggal 12 Rabbiul Awal 1440 H. (08/11/2019)

Menurut Ketua panitia pelaksana,” Ustadz Misran Ahmad mengatakan, Di perkirakan yang akan ba ayun di acara ini sekitar 5000 orang lebih. Karena acara ini sudah di lakukan turun temurun, Sebelum masuknya agama Islam, masyarakat Banjar menganut kepercayaan Kaharingan, dengan pola hidup yang berdasarkan keyakinan kepada ajaran secara turun temurun. Setelah Islam berkembang di Kalimantan Selatan, terjadi akulturasi di antara kepercayaan lokal dengan ajaran Islam. Bentuk nyata dari akulturasi tersebut adalah adanya upacara Baayun Mulud atau Baayun Anak,” Ungkapnya.

Upacara Baayun Mulud adalah sebuah upacara yang ditunjukan bagi anak-anak menjelang dewasa, tepatnya ketika anak tersebut berusia 0-5 tahun. Baayun Mulud terdiri dari dua kata, yaitu Baayun yang berarti melakukan aktivitas mengayun bayi, seperti yang dilakukan ketika akan menidurkan bayi. Sedangkan kata Mulud berasal dari ungkapan untuk menerangkan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian Baayun Mulud berarti sebuah kegiatan mengayun anak sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sebelum melakukan upacara tersebut dilakukan Ritual dimulai dengan membaca syair Maulid Al Habsy, Maulid Ad Diba’I, atau Maulid Al Barzanji dan tausyah yang di lakukan oleh Habib Ahmad Hanafi Hariri Bahasyim, juga terdapat perlengkapan yang wajib disiapkan, di antaranya ayunan yang dibuat dari kain 3 kain berbeda, yaitu kain sarigading pada lapisan pertama, kain kuning pada lapisan kedua, dan kain bahalai pada lapisan ketiga. Kemudian tali ayunan dibuat dengan penuh hiasan dari janur berbentuk burung, ular, ketupat bangsur, halilipan, bunga, dan hiasan lainnya,” Jelasnya.

Habib Ahmad Hanafi Hariri Bahasyim yang memberikan Tausyah

Setiap keluarga yang akan melakukan upacara Baayun Mulud tersebut harus menyiapkan piduduk, yaitu sebuah sasanggan yang diisi dengan beras, gula, habang, nyiur, hintalu hayam, banang, jarum, garam, dan uang receh. Kemudian anak-anak yang akan diayun dalam upacara tersebut dibawa masuk ketika pembacaan Asyrakal dan mulai diayun selama pembacaannya itu secara perlahan. Fungsi diayun tersebut adalah untuk mengambil keberkahan atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Rombongan Maulid Habsy juga berhadir yang di ketuai oleh Guru Fahmi Qhorie dari Sekumpul. Mereka di undang untuk memeriahkan acara ba ayun adat Banjar pedalaman, Setelah dilakukan kegiatan mengayun, dilanjutkan dengan ceramah dan ditutup dengan do’a. Setelah itu para Ulama dan Umara yang hadir akan memberkati anak tersebut sambil membacakan Shalawat Badar.

Panitia pelaksana ba ayun adat pedalaman Banjar

Upacara Baayun Mulud dilaksanakan pada pagi hari, dimulai pukul 10, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal. Tempat pelaksanaannya tidak boleh sembarangan, haruslah di Masjid. Setiap tahunnya, Baayun Mulud dilaksanakan secara masal oleh masyarakat di setiap daerah tempat Suku Banjar tinggal. Menurut kepercayaan masyarakat, anak-anak yang telah melaksanakan upacara Baayun Mulud berarti telah memenuhi salah satu tahapan dalam hidupnya.

baca juga :  Jokowi Abaikan Pengungsi Nduga.

Sebenarnya upacara pendewasaan ini telah menjadi ritual wajib orang-orang Suku Banjar jauh sebelum ajaran Islam masuk ke Kalimantan Selatan. Dahulu upacara ini dikenal dengan nama upacara Baayun Anak. Setelah Islam masuk, maka upacara tersebut dipadukan dengan ajaran Islam dan lahirlah sebuah akulturasi yang kemudian dikenal dengan istilah Baayun Mulud,” Tutupnya.

Sumber,” Arul Koba/Kpm/elg (Gmm)